««•»»
Surah Al Qiyaamah 2
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
««•»»
walaa uqsimu bialnnafsi allawwaamati
««•»»
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) {1531}.
And I swear by the self-blaming soul!
««•»»
Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Nafsul Lawwamah ialah jiwa yang amat menyesali dirinya terhadap sikap dan tingkah lakunya pada masa lalu yang tidak sempat lagi diisi dengan perbuatan baik. Nafsul Lawwamah juga berarti jiwa yang menyesali dirinya karena berbuat kejahatan, kenapa masih saja tak sanggup dihentikan? Dan pada kebaikan yang disadari manfaatnya kenapa tidak diperbanyak atau dilipat gandakan saja? Begitu Nafsul Lawwamah berkata dan menyesali dirinya sendiri.
Perasaan menyesal itu senantiasa ada walaupun dia berusaha keras sehabis upaya untuk mengerjakan amal saleh. Padahal semuanya pasti akan diperhitungkan kelak. Nafsul Lawwamah juga berarti jiwa yang tak bisa dikendalikan pada waktu senang maupun susah. Waktu senang bersikap boros dan royal, sedang di masa susah menyesali nasibnya dan menjauhi agama.
Nafsul Lawwamah sebenarnya adalah jiwa seorang mukmin yang belum mencapai tingkat yang lebih sempurna. Sebab nafsu ini sering juga disebut Nafsu Syarifah (nafsu yang mulia) yang sebenarnya tidak senang dengan jiwa yang suka memperturutkan perbuatan mendurhakai Allah. Benteng utama dari jiwa seperti ini tetap saja menyesal karena telah melewati hidup di atas dunia dengan kebaikan yang tidak sempurna.
Perlu disebutkan di sini bahwa Allah bersumpah dengan Hari Kiamat dan Nafsul Lawwamah. Apa hubungannya? Sebab karena hari kiamat itu kelak akan membeberkan tentang jiwa seseorang, apakah ia memperoleh kebahagiaan atau sebaliknya, yaitu kecelakaan. Maka jiwa atau Nafsul Lawwamah boleh jadi termasuk golongan yang bahagia atau termasuk golongan yang celaka. Dari segi lain sengaja Allah menyebutkan jiwa yang menyesali dirinya ini karena begitu besarnya persoalan jiwa dari sudut pandangan Alquran.
Huruf "La" yang terdapat pada ayat 1 dan 2 di atas adalah "La" (لا) "zaidah" (زائدة) yang menguatkan arti perkataan sesudahnya, yaitu adanya Hari Kiamat dan adanya Nafsu Lawwamah. Allah sendiri menjawab sumpah-Nya biarpun dalam teks ayat tidak disebutkan. Jadi setelah bersumpah dengan Hari Kiamat dan Nafsu Lawwamah, Allah menegaskan,
"Sungguh kamu akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawabanmu".
Pengertian ini diketahui dari ayat berikutnya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali) dirinya sendiri sekalipun ia berupaya sekuat tenaga di dalam kebaikan. Jawab Qasam tidak disebutkan; lengkapnya, Aku bersumpah dengan nama hari kiamat dan dengan nama jiwa yang banyak mencela, bahwa niscaya jiwa itu pasti akan dibangkitkan. Pengertian Jawab ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:
Surah Al Qiyaamah 2
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
««•»»
walaa uqsimu bialnnafsi allawwaamati
««•»»
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) {1531}.
{1531} Maksudnya: bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia
tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.
««•»»And I swear by the self-blaming soul!
««•»»
Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Nafsul Lawwamah ialah jiwa yang amat menyesali dirinya terhadap sikap dan tingkah lakunya pada masa lalu yang tidak sempat lagi diisi dengan perbuatan baik. Nafsul Lawwamah juga berarti jiwa yang menyesali dirinya karena berbuat kejahatan, kenapa masih saja tak sanggup dihentikan? Dan pada kebaikan yang disadari manfaatnya kenapa tidak diperbanyak atau dilipat gandakan saja? Begitu Nafsul Lawwamah berkata dan menyesali dirinya sendiri.
Perasaan menyesal itu senantiasa ada walaupun dia berusaha keras sehabis upaya untuk mengerjakan amal saleh. Padahal semuanya pasti akan diperhitungkan kelak. Nafsul Lawwamah juga berarti jiwa yang tak bisa dikendalikan pada waktu senang maupun susah. Waktu senang bersikap boros dan royal, sedang di masa susah menyesali nasibnya dan menjauhi agama.
Nafsul Lawwamah sebenarnya adalah jiwa seorang mukmin yang belum mencapai tingkat yang lebih sempurna. Sebab nafsu ini sering juga disebut Nafsu Syarifah (nafsu yang mulia) yang sebenarnya tidak senang dengan jiwa yang suka memperturutkan perbuatan mendurhakai Allah. Benteng utama dari jiwa seperti ini tetap saja menyesal karena telah melewati hidup di atas dunia dengan kebaikan yang tidak sempurna.
Perlu disebutkan di sini bahwa Allah bersumpah dengan Hari Kiamat dan Nafsul Lawwamah. Apa hubungannya? Sebab karena hari kiamat itu kelak akan membeberkan tentang jiwa seseorang, apakah ia memperoleh kebahagiaan atau sebaliknya, yaitu kecelakaan. Maka jiwa atau Nafsul Lawwamah boleh jadi termasuk golongan yang bahagia atau termasuk golongan yang celaka. Dari segi lain sengaja Allah menyebutkan jiwa yang menyesali dirinya ini karena begitu besarnya persoalan jiwa dari sudut pandangan Alquran.
Huruf "La" yang terdapat pada ayat 1 dan 2 di atas adalah "La" (لا) "zaidah" (زائدة) yang menguatkan arti perkataan sesudahnya, yaitu adanya Hari Kiamat dan adanya Nafsu Lawwamah. Allah sendiri menjawab sumpah-Nya biarpun dalam teks ayat tidak disebutkan. Jadi setelah bersumpah dengan Hari Kiamat dan Nafsu Lawwamah, Allah menegaskan,
"Sungguh kamu akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawabanmu".
Pengertian ini diketahui dari ayat berikutnya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali) dirinya sendiri sekalipun ia berupaya sekuat tenaga di dalam kebaikan. Jawab Qasam tidak disebutkan; lengkapnya, Aku bersumpah dengan nama hari kiamat dan dengan nama jiwa yang banyak mencela, bahwa niscaya jiwa itu pasti akan dibangkitkan. Pengertian Jawab ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:
««•»»
And, nay, I swear by the (self-)reproaching soul, the one that reproaches itself, even if it should expend great effort in being virtuous (the response to the oath has been omitted, that is to say, la-tub‘athunna, ‘you shall indeed be resurrected!’, as indicated by [what follows]):
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 1]•[AYAT 3]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#75:2
And, nay, I swear by the (self-)reproaching soul, the one that reproaches itself, even if it should expend great effort in being virtuous (the response to the oath has been omitted, that is to say, la-tub‘athunna, ‘you shall indeed be resurrected!’, as indicated by [what follows]):
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 1]•[AYAT 3]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#75:2


Tidak ada komentar:
Posting Komentar