Sabtu, 11 Juli 2015

[075] Al Qiyaamah Ayat 012

««•»»
Surah Al Qiyaamah 12

إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ
««•»»
ilaa rabbika yawma-idzin almustaqarru
««•»»
Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
««•»»
That day the abode will be toward your Lord.
««•»»

Kemudian dalam ayat ini diterangkan keadaan yang sebenarnya dan ke mana manusia hendak dikumpulkan. Hanya kepada Tuhanmu sajalah di hari itu tempat manusia kembali. Di tempat yang celaka penuh kesengsaraan atau di tempat yang penuh nikmat penuh kebahagiaan. Semuanya tergantung kepada kehendak Allah belaka, Dia Penguasa Tunggal di hari itu. Semua manusia kembali kepada Allah tanpa kecuali. Ke sanalah tujuan perjalanan hidup yang terakhir.

Allah berfirman:
وأن إلى ربك المنتهى
Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).
(QS. An Najm [53]:42)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali) bagi semua makhluk, lalu mereka dihisab dan menerima pembalasan.
««•»»
On that day the recourse will be to your Lord, the [final] recourse of all creatures, whereupon they will be reckoned with and requited.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 11][AYAT 13]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:12

[075] Al Qiyaamah Ayat 011

««•»»
Surah Al Qiyaamah 11

كَلَّا لَا وَزَرَ
««•»»
kallaa laa wazara
««•»»
Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!
««•»»
No indeed! There is no refuge!
««•»»

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa sekali-kali tidak ada tempat berlindung. Tiada sesuatu perlindunganpun yang mungkin menyelamatkan mereka dari siksaan Allah. Tiada benteng maupun bukit atau senjata yang dapat dipergunakan.

Demikian dalam ayat lain Allah menegaskan:
استجيبوا لربكم من قبل أن يأتي يوم لا مرد له من الله ما لكم من ملجأ يومئذ وما لكم من نكير
Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).
(QS. Asy Syura [42]:47)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sekali-kali tidak) lafal ini menunjukkan kata tolakan terhadap pencarian jalan lari. (Tidak ada tempat berlindung) tidak ada tempat mengungsi yang dapat dijadikan perlindungan baginya.
««•»»
No indeed! — a deterrent against seeking to escape — There is no refuge, no shelter to seek protection in.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:11

[075] Al Qiyaamah Ayat 010

««•»»
Surah Al Qiyaamah 10

يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ
««•»»
yaquulu al-insaanu yawma-idzin ayna almafarru
««•»»
Pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"
««•»»
that day man will say, ‘Where is the escape?’
««•»»

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat lari?" Masing-masing orang berusaha mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Sebagian mengartikan: "Ke mana tempat lari menghindari api neraka? Tentulah manusia yang dimaksudkan adalah orang-orang kafir, karena pada saat itu orang-orang mukmin tidak ada yang menyangsikan kedatangan Hari Kiamat itu seperti disebutkan dalam beberapa hadis Nabi. Tetapi orang-orang kafir itu dapatkah mereka menyelamatkan diri? Tidak!

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat lari?")
««•»»
on that day man will say, ‘Where is the escape?’
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 9][AYAT 11]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
10of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=10&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:10

[075] Al Qiyaamah Ayat 009

««•»»
Surah Al Qiyaamah 9

وَجُمِعَ الشَّمسُ وَالقَمَرُ
««•»»
wajumi'a alsysyamsu waalqamaru
««•»»
Dan matahari dan bulan dikumpulkan,
««•»»
and the sun and the moon are brought together,
««•»»

Dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan beberapa tanda kedatangan Hari Kiamat itu dalam tiga hal, yakni:

Pertama

Apabila mata terbelalak (karena ketakutan). Pada waktu itu tidak sanggup mata menyaksikan sesuatu hal yang sangat dahsyat.

Dalam ayat lain tercantum makna yang sama, yakni:
مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرفهم وأفئدتهم هواء
Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
(QS. Ibrahim: [14]:43)

Ke·dua

Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Hilangnya cahaya bulan selama-lamanya, bukan seperti keadaan waktu gerhana bulan yang hanya berlangsung sebentar saja.

Ke·tiga

Dan matahari dan bulan dikumpulkan. Artinya matahari dan bulan saling bertemu, sudah kacau-balau. Keduanya terbit dan terbenam pada tempat yang sama, menyebabkan gelapnya suasana alam semesta ini. Padahal keadaan begitu tidak pernah terjadi,

masing-masing berada dalam posisi yang telah ditentukan Allah berfirman:
لا الشمس ينبغي لها أن تدرك القمر ولا الليل سابق النهار وكل في فلك يسبحون
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(QS. Yasin [36]:40)

Jelasnya bahwa di antara peristiwa yang terjadi ketika kedatangan kiamat adalah: manusia sangat ketakutan (terbelalak matanya), hilangnya cahaya bulan untuk selama-lamanya, dan bulan serta matahari dipertemukan (dihancurkan).

Pada saat itulah manusia yang kafir menyadari betapa janji Allah menjadi kenyataan. Semua orang berusaha hendak menyelamatkan diri.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan matahari dan bulan dikumpulkan) maka kedua-duanya terbit dari arah barat; atau kedua-duanya telah hilang sinarnya, yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.
««•»»
and the sun and the moon are brought together, so that both of them will rise from the west; or [it means when] the light of both of them disappears — and this will be on the Day of Resurrection —
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:9

[075] Al Qiyaamah Ayat 008

««•»»
Surah Al Qiyaamah 8

وَخَسَفَ القَمَرُ
««•»»
wakhasafa alqamaru
««•»»
Dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
««•»»
and the sun and the moon are brought together,
««•»»

Dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan beberapa tanda kedatangan Hari Kiamat itu dalam tiga hal, yakni:

Pertama

Apabila mata terbelalak (karena ketakutan). Pada waktu itu tidak sanggup mata menyaksikan sesuatu hal yang sangat dahsyat.

Dalam ayat lain tercantum makna yang sama, yakni:
مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرفهم وأفئدتهم هواء
Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
(QS. Ibrahim: [14]:43)

Ke·dua

Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Hilangnya cahaya bulan selama-lamanya, bukan seperti keadaan waktu gerhana bulan yang hanya berlangsung sebentar saja.

Ke·tiga

Dan matahari dan bulan dikumpulkan. Artinya matahari dan bulan saling bertemu, sudah kacau-balau. Keduanya terbit dan terbenam pada tempat yang sama, menyebabkan gelapnya suasana alam semesta ini. Padahal keadaan begitu tidak pernah terjadi,

masing-masing berada dalam posisi yang telah ditentukan Allah berfirman:
لا الشمس ينبغي لها أن تدرك القمر ولا الليل سابق النهار وكل في فلك يسبحون
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(QS. Yasin [36]:40)

Jelasnya bahwa di antara peristiwa yang terjadi ketika kedatangan kiamat adalah: manusia sangat ketakutan (terbelalak matanya), hilangnya cahaya bulan untuk selama-lamanya, dan bulan serta matahari dipertemukan (dihancurkan).

Pada saat itulah manusia yang kafir menyadari betapa janji Allah menjadi kenyataan. Semua orang berusaha hendak menyelamatkan diri.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan apabila bulan telah hilang cahayanya) yakni menjadi gelap dan lenyap sinarnya.
««•»»
and the moon is eclipsed, darkening, its light disappearing,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 7][AYAT 9]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:8

[075] Al Qiyaamah Ayat 007

««•»»
Surah Al Qiyaamah 7

فَإِذا بَرِقَ البَصَرُ
««•»»
fa-idzaa bariqa albas
««•»»
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
««•»»
But when the eyes are dazzled,
««•»»

Dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan beberapa tanda kedatangan Hari Kiamat itu dalam tiga hal, yakni:

Pertama

Apabila mata terbelalak (karena ketakutan). Pada waktu itu tidak sanggup mata menyaksikan sesuatu hal yang sangat dahsyat.

Dalam ayat lain tercantum makna yang sama, yakni:
مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرفهم وأفئدتهم هواء
Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
(QS. Ibrahim: [14]:43)

Ke·dua

Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Hilangnya cahaya bulan selama-lamanya, bukan seperti keadaan waktu gerhana bulan yang hanya berlangsung sebentar saja.

Ke·tiga

Dan matahari dan bulan dikumpulkan. Artinya matahari dan bulan saling bertemu, sudah kacau-balau. Keduanya terbit dan terbenam pada tempat yang sama, menyebabkan gelapnya suasana alam semesta ini. Padahal keadaan begitu tidak pernah terjadi,

masing-masing berada dalam posisi yang telah ditentukan Allah berfirman:
لا الشمس ينبغي لها أن تدرك القمر ولا الليل سابق النهار وكل في فلك يسبحون
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(QS. Yasin [36]:40)

Jelasnya bahwa di antara peristiwa yang terjadi ketika kedatangan kiamat adalah: manusia sangat ketakutan (terbelalak matanya), hilangnya cahaya bulan untuk selama-lamanya, dan bulan serta matahari dipertemukan (dihancurkan).

Pada saat itulah manusia yang kafir menyadari betapa janji Allah menjadi kenyataan. Semua orang berusaha hendak menyelamatkan diri.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka apabila mata terbelalak) dapat dibaca Bariqa dan Baraqa, artinya kaget dan bimbang setelah ia melihat apa yang dahulu selalu ia dustakan
««•»»
But when the eyes are dazzled (read bariqa or baraqa), startled and perplexed upon seeing some of those things which it used to deny;
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:7

[075] Al Qiyaamah Ayat 006

««•»»
Surah Al Qiyaamah 6

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ
««•»»
yas-alu ayyaana yawmu alqiyaamati
««•»»
Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
««•»»
He asks, ‘When is this day of resurrection?!
««•»»

Dalam ayat ini Allah menggambarkan sikap orang keras kepala: Ia bertanya, "Bilakah Hari Kiamat itu?" Pertanyaan ini muncul sebagai tanda terlalu jauhnya jangkauan Hari Kiamat itu dalam pikiran si penanya dan menunjukkan ketidak percayaan akan terjadinya. Ini ada hubungannya dengan ayat sebelumnya, yakni: "Kenapa ia terus menerus ingin mengerjakan kejahatan?" Karena mereka mengingkari adanya hari berbangkit. Jadi tidak perlu memikirkan segala akibat dari kejahatan yang telah dilakukan.

Banyak ayat yang lain senada dengan itu, umpamanya:
هيهات هيهات لما توعدون إن هي إلا حياتنا الدنيا نموت ونحيا وما نحن بمبعوثين
Artinya:
Jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.
(QS. Al Mu'minuun [23]:36,37)

Kalau disimpulkan ada dua sebab ketidak percayaan manusia kepada Hari Kiamat, yakni:

Pertama

Karena ragu-ragu dengan kekuasaan Allah. Misalnya pikiran yang berpendapat bahwa bahagian tubuh yang sudah hancur dan berserakan serta bercampur aduk dengan tanah, di timur maupun di barat, mungkinkah dapat disusun dan dihidupkan kembali? Bagaimana bisa tubuh manusia yang demikian kembali kepada keadaan semula?.

Seperti bunyi ayat 3 dan 4:
أيحسب الإنسان ألن نجمع عظامه بلى قادرين على أن نسوي بنانه
Artinya:
"Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna".
(QS. Al Bayyinah [98]:3,4)

Ke·dua

Karena keinginan yang terus-menerus untuk menikmati kesenangan duniawi, dan tidak suka dengan kedatangan kiamat (hari berkumpul dan berhisab) yang tentu memutuskan segala bentuk kesenangan itu,

seperti disebutkan dalam ayat ke 5:
بل يريد الإنسان ليفجر أمامه
"Bahkan manusia itu sungguh hendak membuat maksiat terus-menerus".
(QS. Al-Qiyamah [75]:5)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Ia bertanya, "Bilakah) Kapan (hari kiamat itu?") pertanyaannya itu mengandung nada mengejek dan mendustakannya.
««•»»
He asks, ‘When is the Day of Resurrection?’ — the question is meant in mockery and denial.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
6of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:6

[075] Al Qiyaamah Ayat 005

««•»»
Surah Al Qiyaamah 5

بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
««•»»
bal yuriidu al-insaanu liyafjura amaamahu
««•»»
Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
««•»»
Rather man desires to go on living viciously.
««•»»

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa sebenarnya manusia dengan perkembangan pikirannya menyadari bahwa Allah sanggup berbuat begitu, namun kehendak nafsunya mempengaruhi pikirannya.

Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak mengenal kekuasaan Tuhannya, untuk menghidupkan dan menyusun tulang belulang orang yang sudah mati. Akan tetapi mereka masih ingin bergelimang dengan berbagai laku perbuatan maksiat terus menerus, kemudian menunda-nunda tobat atau menghindari diri dari padanya.

Sesungguhnya manusia yang seperti ini kata sahabat Said ibnu Ubair suka cepat-cepat memperturutkan kehendak hati, berbuat apa saja yang diinginkan. Nafsu selalu menggodanya: "Nanti sajalah aku bertobat; nanti sajalah aku hendak beramal kebaikan," Celakanya dia belum sempat tobat dan beramal kebaikan, malaikat maut sudah lebih dahulu mencabut nyawanya. Padahal pada saat itu sedang asyik dalam perbuatan maksiat".

Boleh jadi juga maksud ayat ini adalah bahwa seseorang selalu berangan-angan: "Betapa nikmatnya kalau aku mendapat ini dan itu, mendapat mobil dan rumah mewah atau jabatan yang empuk, dan seterusnya. namun lupa mengingat mati, lupa dengan akan datangnya hari berbangkit, hari saat nasibnya diperiksa segala pekerjaannya.

Kata-kata "liyafjura" berarti cenderung kepada yang batil, suka menyimpang dari kebenaran.

Orang seperti ini ingin hidup bebas seperti binatang. Tidak suka terhalang mengerjakan apa saja karena teguran akal sehat atau larangan agama yang sanggup mengekang keinginannya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus) huruf Lam yang ada pada lafal Liyafjura adalah Zaidah, sedangkan lafal Yafjuru dinashabkan oleh An yang diperkirakan keberadaannya. Yakni dia selalu berbuat dusta (di dalam menghadapinya) di dalam menghadapi hari kiamat. Pengertian ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:
««•»»
Nay, but man desires to deny (li-yafjura: the lām is extra, and the subjunctive mood is because of an implied [preceding] an, ‘that’) what lies ahead of him, namely, the Day of Resurrection, as is indicated by:
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 4][AYAT 6]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
5of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=5&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:5

[075] Al Qiyaamah Ayat 004

««•»»
Surah Al Qiyaamah 4

بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ
««•»»
balaa qaadiriina 'alaa an nusawwiya banaanahu
««•»»
Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
««•»»
Yes indeed, We are able to proportion [even] his fingertips!
««•»»

Untuk menghilangkan keragu-raguan itu, Allah menegaskan sebenarnya Dia berkuasa menyusun (kembali) jari jemari manusia dengan sempurna. Bahkan Allah sanggup mengumpulkan dan menyusun kembali bagian-bagian tubuh yang hancur itu sekalipun itu adalah bahagian yang terkecil seperti jari-jemari yang begitu banyak ruas dan bukunya, yang andai kata Allah tiada mempunyai ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang sempurna, tentu tiada mungkin Ia menyusunnya kembali. Ringkasnya bagaimana tulang-belulang, jari jemari itu tersusun dengan sempurna, maka Allah sanggup mengembalikannya lagi seperti semula.

Diriwayatkan bahwa ayat ke 3 dan ke 4 ini diturunkan karena ulah dua orang yang bernama Adi bin Abi Rabi'ah bersama Akhnasy bin Syuraiq. Adi pernah menjumpai Rasulullah dengan bertanya, "Hai Muhammad, tolong ceritakan kepadaku kapan datang Hari Kiamat itu dan bagaimana keadaan manusia pada waktu itu?" Rasulullah SAW menceritakan apa adanya, Adi menjawab pula, "Demi Allah, andaikata aku melihat dengan mata kepalaku sendiri akan hari itu, aku juga tidak akan membenarkan ucapanmu itu dan aku juga tidak percaya kepadamu dan kepada Hari Kiamat itu. Apakah mungkin hai Muhammad, Allah sanggup mengumpulkan kembali tulang-belulang manusia? Kemudian turunlah ayat ke 4 di atas yang menegaskan kekuasaan Allah sebagai jawaban buat Adi dan orang-orang yang bersikap seperti dia.

Karena peristiwa itu, Rasulullah SAW senantiasa berdoa:
اللهم اكفني شر جاري السوء
"Ya Allah, jauhkanlah aku dari kejahatan tetanggaku yang (bersikap) jahat".
(lihat tafsir Al Maragi, hal. 146, juz 29, jilid X)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Bukan demikian) Kami akan mengumpulkannya kembali (Kami kuasa) di samping mengumpulkan kembali tulang-tulangnya itu (menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna) artinya, Kami dapat mengembalikan tulang jari-jemari itu sekalipun bentuknya kecil, maka terlebih lagi tulang-tulang lainnya yang lebih besar daripadanya.
««•»»
Yes, indeed!, We shall assemble them. We are able, in addition to assembling them, to reshape [even] his fingers, that is to say, to restore their bones just as they had been, despite their smallness: so how much more so [are We able to restore] the larger ones!
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 3][AYAT 5]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
4of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:4

[075] Al Qiyaamah Ayat 003

««•»»
Surah Al Qiyaamah 3

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ
««•»»
ayahsabu al-insaanu allan najma'a 'izhaamahu
««•»»
Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
««•»»
Does man suppose that We shall not put together his bones?
««•»»

Apakah manusia mengira, bahwa Allah tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya?. Artinya apakah manusia mengerti bahwa tulangnya yang telah hancur di dalam kubur, setelah berserakan di tempat yang terpisah-pisah tidak dapat dikumpulkan Allah kembali? Ayat yang diungkapkan dengan nada pertanyaan ini mengandung makna agar manusia memikirkan persoalan mati dan adanya hari berbangkit itu secara serius.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Apakah manusia mengira) yakni, orang kafir (bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya) untuk dibangkitkan menjadi hidup kembali.
««•»»
Does man, that is, [does] the disbeliever, suppose that We shall not assemble his bones?, for the raising [from the graves] and [for] the bringing back to life.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 2][AYAT 4]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
3of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=3&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:3

[075] Al Qiyaamah Ayat 002

««•»»
Surah Al Qiyaamah 2

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
««•»»
walaa uqsimu bialnnafsi allawwaamati
««•»»
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) {1531}.
{1531} Maksudnya: bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.
««•»»
And I swear by the self-blaming soul!
««•»»

Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Nafsul Lawwamah ialah jiwa yang amat menyesali dirinya terhadap sikap dan tingkah lakunya pada masa lalu yang tidak sempat lagi diisi dengan perbuatan baik. Nafsul Lawwamah juga berarti jiwa yang menyesali dirinya karena berbuat kejahatan, kenapa masih saja tak sanggup dihentikan? Dan pada kebaikan yang disadari manfaatnya kenapa tidak diperbanyak atau dilipat gandakan saja? Begitu Nafsul Lawwamah berkata dan menyesali dirinya sendiri.

Perasaan menyesal itu senantiasa ada walaupun dia berusaha keras sehabis upaya untuk mengerjakan amal saleh. Padahal semuanya pasti akan diperhitungkan kelak. Nafsul Lawwamah juga berarti jiwa yang tak bisa dikendalikan pada waktu senang maupun susah. Waktu senang bersikap boros dan royal, sedang di masa susah menyesali nasibnya dan menjauhi agama.

Nafsul Lawwamah sebenarnya adalah jiwa seorang mukmin yang belum mencapai tingkat yang lebih sempurna. Sebab nafsu ini sering juga disebut Nafsu Syarifah (nafsu yang mulia) yang sebenarnya tidak senang dengan jiwa yang suka memperturutkan perbuatan mendurhakai Allah. Benteng utama dari jiwa seperti ini tetap saja menyesal karena telah melewati hidup di atas dunia dengan kebaikan yang tidak sempurna.

Perlu disebutkan di sini bahwa Allah bersumpah dengan Hari Kiamat dan Nafsul Lawwamah. Apa hubungannya? Sebab karena hari kiamat itu kelak akan membeberkan tentang jiwa seseorang, apakah ia memperoleh kebahagiaan atau sebaliknya, yaitu kecelakaan. Maka jiwa atau Nafsul Lawwamah boleh jadi termasuk golongan yang bahagia atau termasuk golongan yang celaka. Dari segi lain sengaja Allah menyebutkan jiwa yang menyesali dirinya ini karena begitu besarnya persoalan jiwa dari sudut pandangan Alquran.

Huruf "La" yang terdapat pada ayat 1 dan 2 di atas adalah "La" (لا) "zaidah" (زائدة) yang menguatkan arti perkataan sesudahnya, yaitu adanya Hari Kiamat dan adanya Nafsu Lawwamah. Allah sendiri menjawab sumpah-Nya biarpun dalam teks ayat tidak disebutkan. Jadi setelah bersumpah dengan Hari Kiamat dan Nafsu Lawwamah, Allah menegaskan,

"Sungguh kamu akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawabanmu".

Pengertian ini diketahui dari ayat berikutnya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali) dirinya sendiri sekalipun ia berupaya sekuat tenaga di dalam kebaikan. Jawab Qasam tidak disebutkan; lengkapnya, Aku bersumpah dengan nama hari kiamat dan dengan nama jiwa yang banyak mencela, bahwa niscaya jiwa itu pasti akan dibangkitkan. Pengertian Jawab ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:
««•»»
And, nay, I swear by the (self-)reproaching soul, the one that reproaches itself, even if it should expend great effort in being virtuous (the response to the oath has been omitted, that is to say, la-tub‘athunna, ‘you shall indeed be resurrected!’, as indicated by [what follows]):
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of40
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=75&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#75:2